Dua nama yang digabung menjadi satu. Dia memiliki nama yang begitu banyak, berbeda-beda tergantung tempat yang lagi ia datangi. Diwujudkan sebagai seekor Domba dan Serigala, Kindred mengintai kematian, memburu jiwa-jiwa setiap mahluk hidup. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya, yang pasti dia menjadi sebuah legenda di Runettera, menjadi dongeng menakutkan di penjuru Valaron.
Banyak dari mereka, para komunitas League of Legends menanyakan dia, siapakah Kindred sebenarnya?
Apakah dia iblis? Atau malaikat? Atau, seorang dewa kematian? Entah, karena semua itu masih menjadi misteri. Tapi yang pasti dia adalah Kindred sang Pemburu Abadi. Pemburu abadi yang tak pernah bisa mati.
The goal of all life is death. Semua yang hidup, pasti akan mati. Semua yang hidup, pasti akan menemui Kindred.
Jika Anivia adalah manifestasi dari salju dan udara dingin, maka Kindred adalah manifestasi dari sesuatu yang lebih kelam: Kematian. Meskipun setiap kebudayaan menggambarkan Kindred dengan cara yang sedikit berbeda, Kindred secara umum digambarkan sebagai dua entitas berbeda, yaitu Lamb, sang pemanah, dan Wolf, sang pemburu. Kindred adalah Lamb dan Wolf. Lamb dan Wolf adalah Kindred. Sulit untuk dimengerti tapi itulah kebenarannya.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang Kindred, mari kita tengok sekali lagi dongeng dari Lamb dan Wolf ini.
Pemburu Abadi
Terpisah, namun tak terpisahkan, Kindred mewakilkan dua lambang kematian. Panah Lamb menawarkan sebuah pencabutan nyawa yang halus bagi mereka yang pasrah. Wolf memburu mereka yang mencoba melarikan diri, dan menghadirkan penderitaan dengan rahang penghancurnya. Meskipun banyak sekali cerita legenda yang berbeda dari seluruh Runeterra tentang Kindred, mereka yang hidup harus memilih wajah kematian mereka sendiri.
Kindred adalah dekapan putih kehampaan dan juga gertakan gigi dalam kegelapan. Sang penggembala dan tukang daging, penyair dan primitif, mereka berdua adalah kesatuan. Ketika bertemu di ujung kehidupan, akan ada suara yang lebih keras dari suara terompet sekalipun, menghantam bebas menuju kerongkongan jiwa yang Kindred buru. Berdiri dan sambutlah busur panah Lamb serta anak panahnya yang akan menusuk menembus tubuh kalian dengan cepat. Jika kalian menolaknya, Wolf akan bergabung dan memburu kalian, dia mana kalian akan dikejar habis-habisan menuju ajal.
Selama manusia telah mengenal kematian, Kindred telah lama memantau Valoran. Ketika saat-saat terakhir datang, ada yang bilang bahwa prajurit Demacia sejati akan berubah menjadi Lamb, mengambil sebuah panah, sambil melewati jalanan di Noxus, dengan Wolf yang memimpin perburuan. Di tumpukan salju di negara Freljord, sebelum pergi berperang, beberapa kepala suku akan “mencium Wolf”, bersumpah untuk menghormatinya dengan mengejar darah-darah musuhnya. Setelah melalui Harrowing, kota Bilgewater berkumpul untuk merayakan dan menghormati mereka yang mati oleh Lamb dan Wolf.

Menolak kehadiran Kindred bagaikan menolak kejadian alam. Tidak ada yang bisa mengelak dari sepasang pemburu ini. Melarikan diri hanya akan membuatnya menjadi mimpi buruk. Kindred menunggu mereka yang terkurung jiwanya di Shadow Isles, karena mereka tahu semuanya akan berakhir dengan panah dari Lamb atau taring dari Wolf.
Pertama kali orang-orang menyaksikan sosok pemburu ini adalah dari sepasang topeng kuno yang dibuat oleh tangan orang yang tidak diketahui dan telah lama dilupakan. Tapi dimulai saat ini, Lamb dan Wolf akan selalu bersama-sama, dan mereka selalu dikenal dengan nama Kindred.
Hutan Pepohonan
Pertempuran ini kacau balau seperti pesta yang baru saja mereka gelar. Seperti lezatnya kehidupan, banyak yang harus berakhir, dan banyak yang harus diburu! Wolf menghadap ke arah salju sementara Lamb berdansa dengan tepian pedang ke ujung tombak, perburuan berdarahnya tidak pernah mampu mengotori jubah pucatnya.
“Terdapat keberanian dari balik rasa sakit ini, Wolf. Banyak yang akan senang bertemu dengan kematian mereka.” Dia menarik panahnya dan melepaskannya dengan lembut.
Nafas terakhir dari prajurit tersebut disambut dengan perisai yang compang-camping beserta kapak besarnya. Satu anak panah putih melesat cepat masuk menembus jantungnya.

“Keberanian mereka membuatku bosan,” sosok Wolf hitam di belakang menggerutu sambil mencari mangsa lagi ke arah wilayah yang dihujani salju itu. “Aku sangat lapar dan ingin berburu.”
“Bersabarlah,” Lamb berbisik lembut. Sesaat setelah kata-kata tersebut hilang, Wolf merasakan sesuatu.
“Aku mencium ketakutan,” katanya, tubuhnya bergetar kegirangan.
Di seberang sana, terdapat sosok anak yang terlalu muda untuk berperang, dia bergetar dengan pedang di tangannya. Kindred mulai menandainya.
“Aku menginginkannya. Apakah dia menyadari kehadiran kita, Lamb?”
“Ya, tapi dia tetap harus memilih. Memberi makan Wolf, atau menyerah kepadaku.”
Pertarungan pun dimulai. Mangsa buruan tersebut melihat sepasang sosok menuju ke arahnya. Ini mungkin akan menjadi akhir untuknya. Di saat itu juga, dia telah membuat pilihannya. Mau tak mau dia akan pergi. Sampai nafas terakhirnya, dia tidak akan berhenti berlari.
Wolf berkeliaran di udara dijatuhi oleh butiran salju lembut.
“Ya, wahai Wolf.” Suara Lamb bergema seperti sebuah bel. “Mulailah berburu.”
Dari sana, Wolf bergerak cepat mengejar anak itu, melolong ke seluruh lembah. Sosoknya menyapu jasad-jasad mati dengan senjata mereka yang tak berguna.
Anak itu berbalik dan berlari lagi menuju pepohonan sampai semuanya gelap. Dia tertekan, udara dingin ini memasuki paru-parunya. Bayangan hitam itu mendekat ke arahnya dan berputar, tak menyisakan jalan keluar satupun. Tiba-tiba tubuh Wolf mengelilingi semua tempat. Perburuan ini akan segera berakhir. Wolf menancapkan taringnya ke leher anak tersebut, dan merenggut satu kehidupan.
Wolf mengimbangi jeritan anak tersebut dengan suara tulang yang remuk. Lamb yang datang mengikuti dari belakang hanya tertawa. Wolf berbalik dan bertanya dengan suara beratnya “Bukankah ini yang disebut dengan musik, Lamb?”
“Untukmu, iya.” Jawab Lamb.
“Lagi.” Wolf menjilat satu tetesan terakhir kehidupan di ujung taringnya. “Aku ingin berburu lagi, Lamb kecil.”
“Akan selalu ada lagi,” bisiknya. “Sampai hanya satu Kindred yang tersisa.”
“Dan apakah kau akan lari dariku?”
Lamb membalikkan badannya. “Aku tidak akan pernah lari darimu, wahai Wolf.”
Kematian Yang Indah
Magga akan mati untuk yang ke empat belas kalinya. Dia menggigit sebuah apel yang masih segar untuk dibilang busuk. Seolah daging buahnya mengandung racun yang sangat mematikan. Sang aktris ini beraksi dengan untaian kata-kata yang dibuat sulit keluar dari mulutnya menjelang ajal menjemput.

“Oh, bagaimana hebatnya sebuah mimpi bisa terus hidup? Untuk kali ini—sudah terlambat!—aku terbangun untuk melihat kemegahan mimpiku,” katanya meratapi.
Dengan kepulan asap dan bubuk yang berkilauan, Kindred membuat pintu masuk ke arah panggung. Sesuai tradisi, mereka dimainkan oleh seorang aktor yang wajahnya ditutupi oleh dua topeng yang berlawanan. Dia mendekati Magga, dengan topeng putih domba yang menatap ke arahnya.
“Mbee! Apakah aku mendengar ada yang meminta panah tajamku? Kemarilah, nak, biarkan aku menghangatkan hatimu yang perlahan mulai membeku itu.”
Magga menolaknya, seperti yang dia lakukan tiga belas kali sebelumnya. Setiap nuansa yang muncul selama kehadirannya memekakkan telinga dengan jeritannya. Lamb si kambing mulai menunjukkan bahwa ada sesosok serigala yang akan muncul.
“Semua yang kau lakukan ini sia-sia untuk mencegah ajalmu,” geram Wolf.
“Aku hanya seorang wanita miskin! Aku mohon, biarkan aku menikmati tangisanku dan biarkan empat telingamu mendengarnya.”
Para penonton tampak terpesona oleh drama yang ditampilkan oleh Orphellum Mechanicals. Dengan melambangkan dua buah ancaman dari lidah mereka berdua, Lamb dan Wolf, drama kematian yang disajikan ini sangatlah membuat penonton terbawa suasana.
Denji, sang aktor muda yang memerankan sosok Lamb dan Wolf, mengeluarkan taring tajam dari mulutnya yang terbuat dari kayu. Magga membiarkan lehernya untuk digigit. Pada gigitannya, trik pita merah digunakan untuk melambangkan darah yang keluar dari leher dan taring yang membuat penonton menikmati aksi yang telah mereka bayar.
Malam yang sunyi itu, Magga menemukan sebuah prasasti tertutup oleh rerumputan. Meskipun dia tidak bisa membaca tulisannya, jari-jarinya menelusuri setiap tulisan dan juga gambar dua buah topeng Kindred. Dia telah mendatangi sebuah tempat pemakaman kuno.
Dia merasa ketakutan dan merasakan sesuatu bergerak di belakangnya. Penasaran, dia pun mencarinya. Magga akhirnya melihat apa yang dia cari, sosok yang telah dia kenal selama ini. Di depannya berdiri sebuah sosok kambing berdiri yang membawa panah ditemani teman setianya. Itu adalah Lamb dan Wolf.
“Aku mendengar detakan jantung!” kata Wolf, matanya yang hitam memancarkan kebahagiaan. “Bolehkah aku memilikinya?”
“Mungkin,” kata Lamb. “Aku merasakan ketakutannya. Bicaralah nona manis. Beritahu namamu.”
“Ka-katakan siapa kau,” balas Magga, sambil melangkah mundur. Usahanya untuk melarikan diri digagalkan oleh Wolf yang bergerak cepat ke belakangnya.
Kemudian dia berbisik. “Kami punya banyak nama.”
“Di barat, aku Ina dan dia Ani,” kata Lamb. “Di timur, Farya dan dia Wolyo. Tapi kami adalah Kindred. Kami selalu seekor kambing dan juga serigala.”
Wolf mengaum dan mengendus ke udara.
“Dia memainkan permainan yang membosankan,” katan Wolf. “Mari kita mainkan permainan baru, ada yang mengejar, ada yang menggigit, dan ada yang lari.”
“Dia tidak ingin bermain, wahai Wolf,” kata Lamb. “Dia ketakutan dan bahkan tidak bisa menyebutkan namanya. Semuanya tersembunyi di balik bibirnya. Jangan takut, nak, aku sudah tahu namamu, Magga. Dan kau juga tahu nama kami”

“A-a aku mohon,” Magga gemetar. “Malam ini bukanlah malam yang—”
Wolf mengeluarkan lidahnya keluar dari mulutnya, dan berkata.
“Semua malam adalah malam yang baik untuk mencari mangsa,” kata Wolf tertawa.
“Begitu pula semua siang.” Lamb menyahut. “Cahaya akan meningkatkan akurasi tembakan panahku.”
“Tidak ada bulan malam ini!” tangis Magga. Dia menggunakan apa yang telah diajarkan Illusian—untuk membuat gestur sehingga orang di belakangnya bisa melihat apa yang dia lakukan. “Bulannya bersembunyi di balik selimut awan gelap, dan tak tercapai oleh mataku dan juga matamu. Tanpa bulan, apa yang bisa kau lihat?”
“Kami melihat bulan,” jawab Lamb, sambil membelai busur panahnya. “Bulan selalu ada.”
“Tidak ada bintang!” kata Magga, mencoba lagi, membuat gestur lagi dan berbicara lebih tenang. “Tidak ada berlian yang bersinar dan berkilauan merona di tengah malam. Hal indah apa yang bisa dilihat oleh seseorang yang bertemu Lamb dan Wolf?”
“Anak bernama Magga ini bermain permainan yang baru,” geram Wolf. “Namanya permainan mengulur waktu.’”
Wolf berhenti bergerak dan memiringkan kepalanya ke samping. Dia mengarahkan moncongnya ke arah Magga dan berisik, “Bisakah kita bermain kejar-kejaran dan yang kalah akan dicabik-cabik?” Wolf berkata sambil menunjukkan taring tajamnya.
“Mari kita tanya dia,” kata Lamb. “Magga! Mana yang lebih kau pilih, panahku, atau taring Wolf?”
Magga terdiam. Matanya seolah berlari mencari hal yang bisa dia lihat untuk terakhir kalinya. Ini bukan tempat yang buruk untuk mati. Ada rerumputan, pepohonan, dan ada juga bangunan kuno di sekelilingnya. Dan masih ada juga keheningan di udara.
“Aku lebih memilih panah Lamb,” jawabnya, memandang remah kasar kulit pepohonan. “Aku membayangkan ketika aku kecil dulu memanjat dahan tertinggi. Untuk kali ini, aku tidak akan berhenti memanjat. Apakah rasanya seperti itu jika aku pergi bersamamu?”
“Tidak,” kata Lamb, “tapi itu sesuatu hal yang bagus. Jangan takut. Kami hanya bersenang-senang. Kau sudah datang pada kami malam ini; kami tidak datang untukmu.”
“Aku tidak bisa mengejarmu,” kata Wolf, dengan nada seolah kecewa. “Tapi ada hal lain. Hal selain mengejar-ngejar dan juga menggigit. Cepat, Lamb. Aku lapar.”
“Untuk kali ini, ketahuilah bahwa sandiwaramu telah membuat kami senang, dan aku ingin melihatnya lagi ketika kita bertemu nanti.”
Wolf melewati Magga dan menghilang ke dalam hutan. Seorang binatang buas menghilang di balik rumput yang tinggi. Magga menengok ke arah Lamb lagi, dan dia pun hilang.
Magga pun pergi.

Ketika Magga kembali ke gerombolan, dia melihat sebuah kekacauan. Karavan yang baru dia tumpangi hancur begitu saja. Pakaian dan alat peraga lainnya hancur bertebaran di sekitar.
Dia menemukan tubuh Denji di dekat tempat di mana dia tidur sebelumnya. Dia mati melindungi Tria, yang juga mati di dalam dekapannya. Jika dilihat dari jejak darahya, mereka mati dengan cepat. Mereka tidak mau melepaskan satu sama lain, jari mereka menempel erat bahkan sampai ujung nafas mereka.
Magga meilhat sepertinya Illusian berhasil membunuh dua bandit sebelum mereka berhasil membakar karavan beserta Parr di dalamnya.
Satu-satunya hal yang tidak tersentuh adalah topeng Lamb dan Wolf milik Denji. Magga mengambilnya dan mengenakan topeng Lamb lalu kemudian dia mendengar suara Wolf.
“Bermain kejar-kejaran.”
Lalu Magga tanpa banyak menunggu lagi dia langsung berlari ke arah Needlebrook.
The Golden Round sudah dipenuhi oleh ribuan pasang mata yang terbalut dalam kegembiraan. Sang raja duduk di dalam teater bersama sang ratu dan penasihat di sebelahnya. Semuanya bersemangat menunggu dramanya dimulai. Semua orang terhenyak ketika tirai hitam diangkat dan munculah para aktor.
Magga duduk di ruang ganti di belakang panggung. Dia mendengar teriakan penonton yang kemudian hilang ketika dia sedang menatap kaca dan latihan sebelum naik panggung. Kini rona anak kecil sudah tidak lagi ada pada dirinya, sekarang dia layaknya sebuah permata yang siap menunjukkan pesonanya dari rambut berkilaunya.
“Madam!” kata seorang tata pangung. “Anda belum mengenakan kostum anda.”
“Iya, belum,” jawab Magga, “Aku biasa melakukannya sesaat sebelum naik.”
“Tapi anda akan segera naik panggung,” katanya lagi, sambil membawa kostum Magga: topeng Lamb dan Wolf yang dia temukan di Orphellum Mechanicals dulu.
“Semoga beruntung malam ini,” sambungnya.
Magga bersiap naik ke panggung. Dia menyelipkan topeng di atas kepalanya. Dinginnya suasana panggung merayap ke seluruh punggungnya. Dan dia tak mempedulikannya—seperti biasa.
Dia membuat penonton terpesona ketika naik ke panggung sambil memeragakan gerakan Lamb. Dia membuat penonton histeris ketika memeragakan kebiadaban Wolf. Dia, seperti mewakilkan sepasang kematian, membuat aktor lainnya bangga bisa bermain dengannya. Sampai akhirnya penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan yang luar biasa.
Itu semua benar. Para penonton menyukai kematian yang indah. Mereka bahkan mencintai Magga lebih dari apapun.

Bahkan sang raja dan juga sang ratu berdecak kagum memuji apa yang telah dia tampilkan.
Tapi kemudian Magga tidak mendengar suara tepukan tangan dan seruan itu lagi. Dia tidak merasakan panggung berdiri di bawah kakinya. Semua yang ada di depannya terasa seolah membungkuk rendah. Tidak ada lagi tanda-tanda pujian itu pun terlihat. Yang terasa hanyalah rasa sakit menusuk tajam di dadanya.
Sampai ketika Magga menengok ke arah penonton, yang terlihat hanyalah wajah domba dan juga serigala yang menggantikan wajah semua orang di sana.
Video Kindred – Listen to their Tale
Konsep Awal Kindred











No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan relevan sesuai topik bahasan, dengan menggunakan kata-kata yang sopan dan santun